BAHASA YANG BAIK MENUNJUKAN BANGSA YANG BAIK

Bahasa yang baik menunjukkan bangsa yang baik.
--
Yusril Ihza Mahendra
DISKUSI, DEBAT DAN POLEMIK
---
Ada satu nasehat Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, seorang pujangga Melayu keturunan Bugis yang hidup di abad ke-19, yang saya ingat betul. Beliau pernah berkata bahwa bahasa itu menunjukkan bangsa. Bahasa yang baik, menunjukkan bangsa yang baik. Bahasa yang buruk, menunjukkan bangsa yang buruk pula.
Setelah beberapa bulan saya aktif dalam facebook dan twitter, saya mendapati hal-hal yang membuat saya bahagia sekaligus prihatin. Bahagia karena siapa saja hari ini bisa mengutarakan pendapatnya tanpa rasa takut. Baik menggunakan identitas sesungguhnya ataupun palsu. Tapi, ada juga yang membuat saya prihatin, karena ada diantara kita berkomentar, baik dalam diskusi atau berdebat dengan tidak mengedepankan ilmu dan akal sehat. Bahkan, kadang dengan kebencian semata, dengan tidak melihat substansi persoalan. Adapula yang sinis memandang seseorang. Padahal, niat saya sejak awal terlibat dalam dunia maya (blog, facebook, dan twitter), agar bisa memaksimalkan penggunaan pikiran yang jernih dan akal sehat
Saya sadar bahwa apa yang saya –dan siapapun, ungkapkan dalam jejaring sosial media, mungkin saja bersifat subyektif, karena didasarkan pada titik pandang, falsafah dan keyakinan keagamaan yang dianut. “Subyektifitas”dan “Obyektifitas” adalah problema abadi dalam filsafat ilmu pengetahuan, yang telah diperdebatkan berabad-abad lamanya dan tak kunjung selesai.
Dalam berdebat, diskusi dan berpolemik, saya banyak menimba ilmu dengan beberapa tokoh, antara lain Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Buya Hamka dan Sutan Takdir Alisjahbana. Semua beliau itu, yang kini semuanya telah wafat, adalah guru saya dan membimbing saya secara langsung.
Saya juga belajar kepada Syed Muhammad Naqieb al-Attas, seorang filsuf dan cendekiawan Malaysia. Saya pernah berpolemik dengan Nurcholish Madjid, Affan Ghaffar, Fachry Ali dan berkali-kali terlibat perdebatan lisan dengan beberapa tokoh di dalam maupun di luar negeri.
Saya menelaah dengan tekun Polemik Kebudayaan tahun 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane. Saya telaah juga polemeik Soekarno dengan Mohammad Natsir tentang agama dan negara menjelang kita merdeka. Saya baca juga perdebatan antara Sutan Sjahrir, Sjafruddin Prawiranegara dan sejumlah tokoh lain di era tahun 1950-an.
Bahkan, saya juga perdebatan-perdebatan klasik dalam filsafat dan ilmu kalam juga saya telaah dengan seksama. Saya mempelajari dengan tekun balas pendapat antara Al-Ghazali dengan Ibnu Rusjd, antara Ibnu Taymiyyah dengan banyak pemikir, dan seterusnya. Bahkan, saya juga menelaah dengan tekun perdebatan yang cukup keras tentang “Dasar Negara” di Majelis Konstituante RI antara tokoh-tokoh Masyumi, PNI, PKI, PSI dan tokoh-tokoh lainnya.
Apa hasil bacaan saya itu?
Mereka berdebat, berdiskusi, berpolemik dengan landasan yang jelas, yakni: akal sehat, kecerdasan, pikiran yang jernih, dan yang terpenting adalah bahasa –dan cara, yang baik dan santun. Dengan kata lain, semua diskusi, polemik dan perdebatan itu, pada umumnya dilakukan dengan sportif, argumentatif, menggunakan bahasa yang baik, dan tidak pernah menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada relevansinya dengan topik perdebatan.
Mudah-mudahan kita saling mendapat manfaat dari interaksi di jejaring sosial media ini. Dan lebih dari itu, kita bisa membuktikan ucapan Sang Maestro Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, dan menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah Bangsa yang baik.
26 Maret 2012 pukul 07.47·

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejumlah Artis Ibukota bergabung bersama Partai Bulan Bintang

PANCASILA LANDASAN FALSAFAH NEGARA, BUKAN DASAR ATAU IDEOLOGI NEGARA